Rabu, 21 Januari 2009

Si Pemungut Gabah


Di sebuah kampung hidup seorang wanita tua yang menjadi bahan pembicaraan orang banyak. Dia bukan pengemis atau orang miskin. Sawahnya luas dan anak-anaknya pun telah menjadi orang yang berhasil. Hanya saja ia mempunyai kebiasaan aneh. Kemana pun ia pergi, asal ada gabah berceceran di tanah ia segera membungkuk dan memungutinya. Kadang-kadang ia menggunakan sapu, namun biasanya ia hanya menggunakan tangannya saja untuk mengumpulkan gabah-gabah yang ditemuinya.
Orang-orang mulai menduga-duga. "Dia itu wanita yang gila kekayaan. Padinya sendiri utuh. Ia cukup makan dengan gabah-gabah yang dipungutinya."
Dugaan demi dugaan terus berkembang. Yang paling dasyat adalah tuduhan bahwa ia memelihara sejenis tuyul yang memaksanya melakukan pekerjaan itu, sebagai syarat supaya menjadi kaya.
Ibu itu tidak pernah memberi penjelasan, sehingga tidak seorang pun tahu persis arti tindakannya. Ketika ajalnya hampir datang, ia mengumpulkan semua anak cucunya. Kepada mereka, ia menerangkan arti kebiasaannya itu.
"Sepiring nasi yang kita makan berasal dari butiran-butiran padi, yang ditumbuk menjadi beras dan dimasak menjadi nasi. Tidak pernah ada sepiring nasi tanpa butiran-butiran gabah itu." Hidupnya menjadi kesaksian bahwa sepiring nasi tidak lebih penting dari pada sebutir gabah yang dipungut dengan tangannya.
Kita biasa terpaku pada sepiring nasi dan melupakan butir-butirannya. Hidup juga terdiri dari unsur-unsur kecil yang terpadu menjadi satu. Bila kita ingin hidup yang memuaskan, hidup yang baik dan berbahagia, jangan lupakan butir-butir gabah itu. Kita harus tlaten memungutinya setiap hari.

0 komentar:

Posting Komentar